Selasa, 28 Desember 2010

DUE DATE !!!

Lepas dari kesuksesan luar biasa The Hangover (2009), dan sebelum ia merilis sekuel film komedi tersebut tahun depan, sutradara Todd Phillips merilis Due Date, sebuah film komedi yang bertemakan road trip dengan Robert Downey, Jr. dan Zach Galifianakis sebagai bintang utamanya. Sebagai sutradara, jika melirik daftar filmografinya, Phillips bukanlah seorang sutradara yang selalu konsisten dalam menghantarkan kualitas filmnya. Banyak yang berhasil meraih pujian baik dari kritikus film maupun penonton, namun tidak sedikit pula yang berakhir sebagai sebuah kekecewaan. Walau tidak sampai pada tahap mengecewakan, sayangnya Due Date bukanlah sebuah film yang akan dianggap sebagai bagian dari momen terbaik karir penyutradaraan Todd Phillips.
Hal yang aneh, memang, mengingat Due Date memiliki dua bintang yang sepertinya memiliki berbagai hal yang diperlukan untuk membuat sebuah film komedi menjadi sebuah tontonan yang bekerja dengan baik: lucu dan menyegarkan. Well… kesalahan sepenuhnya memang tidak dapat diembankan pada Downey, Jr. dan Galifianakis karena memang dengan naskah cerita yang cenderung lemah dan terdengar terlalu familiar seperti yang dimiliki Due Date, rasanya seorang aktor dengan kapasitas komedi terbaik pun masih belum akan mampu menghantarkannya dengan baik.
Robert Downey, Jr. berperan sebagai Peter Highman, seorang calon ayah yang berada dalam perjalanan dari Atlanta menuju Los Angeles untuk menemani istrinya, Sarah (Michelle Monaghan), yang akan melahirkan anak pertama mereka. Perjalanan menuju Los Angeles sendiri telah dimulai dengan langkah yang buruk ketika Peter secara tidak sengaja bertemu dengan Ethan Tremblay (Galifianakis), seorang aktor yang juga bertujuan ke Los Angeles dengan membawa abu sang ayah yang baru saja meninggal dunia. Berbeda dengan Peter yang tenang, Ethan adalah seorang pria yang banyak bicara dan cenderung sering melakukan perbuatan yang mengganggu kenyamanan orang-orang di sekitarnya. Dan Peter akan segera menjadi salah satu dari orang-orang tersebut.
Setelah sebuah insiden antara Peter dan Ethan yang menyebabkan mereka diusir dari pesawat mereka, Peter – yang baru menyadari kalau ia meninggalkan dompet, identitas dan seluruh barang-barangnya di dalam pesawat, terpaksa menerima ajakan Ethan untuk berangkat ke Los Angeles dengan menggunakan mobil sewaan yang dikendarai Ethan. Dan seperti alur cerita komedi yang familiar lainnya, unsur-unsur komedi yang muncul di Due Date datang dari pertentangan kepribadian antara Peter dan Ethan yang tidak hanya sering menyebabkan mereka terjebak dalam sebuah masalah besar, namun juga hampir membuat mereka kehilangan nyawa mereka.
Tidak ada yang istimewa dalam Due Date. Kisah perjalanan Peter dan Ethan memang beberapa kali berhasil memberikan hiburan ketika mereka dikisahkan saling beradu mulut atau memiliki sikap yang berlawanan ketika menghadapi satu masalah. Sayangnya, unsur hiburan yang diberikan oleh Due Date hanya berhenti di titik tersebut, dengan tidak memberikan apapun lagi kepada para penontonnya. Ini membuat durasi film yang sebenarnya hanya sepanjang 85 menit terasa bagaikan sebuah perjalanan yang sangat panjang dan beberapa kali terasa cukup melelahkan.
Komedi yang ditawarkan di sepanjang alur cerita juga bukanlah sesuatu yang istimewa ketika Phillips hanya mampu memberikan barisan lelucon usang yang pasti telah sangat familiar bagi banyak penikmat film komedi. Mulai dari lelucon fisik hingga lelucon mengenai seks yang dihadirkan sama sekali tidak terasa segar, walaupun Downey, Jr. dan Galifianakis beberapa kali berhasil membawakan lelucon tersebut dengan baik dan membuatnya menjadi unsur yang menghibur.
Dari departemen akting, penampilan kedua aktor utama sama sekali tidak mengecewakan. Walau begitu, butuh beberapa saat untuk menghadirkan chemistry yang tepat antara keduanya. Selain Downey, Jr. dan Galifianakis, beberapa wajah familiar tampil sebagai pemeran pendukung dan cameo di sepanjang jalan cerita. Sayangnya, bagi mereka yang mengharapkan penampilan yang mampu mencuri perhatian besar seperti Ken Jeong di The Hangover, mereka sepertinya tidak akan mendapatkannya lewat Due Date akibat naskah yang sepertinya membatasi penampilan mereka.
Mereka yang memiliki ekspektasi besar kepada Due Date karena kesuksesan The Hangover dan dua nama aktor yang berada di barisan depan pemeran film ini sepertinya tidak akan mendapatkan sesuatu yang cukup memuaskan dari film ini. Robert Downey, Jr. dan Zach Galifianakis memang tampil maksimal, berhasil memberikan tawa dan hiburan pada beberapa adegan. Namun naskah yang lemah, dan kurangnya dukungan lelucon-lelucon segar yang dihadirkan, membuat Due Date menjadi bukanlah sebuah tontonan yang istimewa. Cukup menghibur, namun sama sekali tidak istimewa.
Rating: 3 / 5
Due Date (Legendary Pictures/Green Hat Films/Warner Bros., 2010)
Due Date (2010)
Directed by Todd Phillips Produced by Todd Phillips, Daniel Goldberg, Susan Downey Written by Alan R. Cohen, Alan Freedland, Adam Sztykiel, Todd Phillips (screenplay), Alan R. Cohen, Alan Freedland (story) Starring Robert Downey, Jr., Zach Galifianakis, Michelle Monaghan, Jamie Foxx, Rachel Kearns, Juliette Lewis, RZA, Matt Walsh, Danny McBride, Todd Phillips Music by Christophe Beck Cinematography Lawrence Sher Editing by Debra Neil-Fisher Studio Legendary Pictures/Green Hat Films Distributed by Warner Bros. Running time 85 minutes Country United States Language English

DEVIL

Sejujurnya, Manoj Nelliyattu Shyamalan, yang mungkin lebih populer bagi dunia sebagai M Night Shyamalan, adalah seorang sutradara yang tidak pernah muncul dengan karya yang sangat mengecewakan. Baiklah, lupakan kalau ia pernah terlalu bersemangat untuk mengadaptasi serial televisi animasi Avatar: The Last Airbender menjadi sebuah film live-action datar berjudul The Last Airbender dan merilisnya beberapa bulan yang lalu. Namun di luar dari film tersebut, serta di luar ekspektasi tinggi dunia yang menginginkan dirinya untuk kembali mengulangi kesuksesan The Sixth Sense (1999), karya-karya Shyamalan sebenarnya seluruhnya sangat dapat dinikmati. Penuh dengan imajinasi yang mungkin tidak begitu saja dapat dikonsumsi semua orang dengan mudah.
Well… selepas kegagalan besar yang bernama The Last Airbender tersebut – tetapi masih mampu mereguk keuntungan komersial yang cukup besar, Shyamalan kini kembali menghadirkan Devil, sebuah seri pertama untuk trilogi The Night Chronicles yang telah dirancangnya. The Night Chronicles sendiri akan kembali menempatkan Shyamalan di tempat terbaiknya, dimana ia akan berkisah mengenai kisah-kisah supernatural yang terjadi di masyarakat modern. Sayangnya (atau untungnya, bagi sebagian orang), untuk pembuatan filmnya sendiri, Shyamalan hanya akan bertindak sebagai penggagas ide serta produser dari setiap film tersebut. Untuk Devil, sutradara Quarantine (2008), John Erick Dowdle, yang duduk di kursi sutradara.
Ide yang ditawarkan, harus diakui, sangat menggiurkan. Menggunakan premis sebuah urban legend yang sering disebut sebagai A Devil’s Meeting, dimana setan yang berada di Bumi akan menyiksa para manusia pendosa untuk kemudian mengambil jiwa mereka, Devil berkisah mengenai lima orang asing yang oleh takdir dipertemukan dalam sebuah elevator di sebuah gedung. Dalam suatu kejadian yang aneh, elevator tersebut berhenti bekerja dan, tentu saja, menjebak kelima orang tersebut di dalamnya. Konflik mulai terjadi ketika salah satu dari kelima orang tersebut tiba-tiba tewas secara mengenaskan. Jelas rasa curiga mulai tumbuh diantara keempat orang lainnya dan saling menduga siapa pembunuh sebenarnya diantara mereka.
Detektif Bowden (Chris Messina), yang sedang menangani kasus bunuh diri di gedung yang sama, akhirnya turut turun tangan akibat adanya dugaan ada seorang pembunuh di dalam elevator tersebut. Dengan sebuah kamera pengawas, nyatanya Bowden hanya dapat menyaksikan orang-orang yang terjebak di dalam elevator tersebut mulai terbunuh satu persatu. Dengan sisa waktu yang terus bergerak, Bowden kini diharuskan untuk dapat menemukan jawaban teka-teki siapa pembunuh sebenarnya yang ada di dalam elevator tersebut.
Devil harus diakui adalah sebuah film yang memang menjadi kekuatan asli bagi Shyamalan: film thriller yang memadukan kisah supranatural, sentuhan reliji serta ditambah dengan jalan cerita misterius dan kehadiran sebuah twist ending. Sang sutradara, John Erick Dowdle, ternyata cukup mampu menjaga alur intensitas ketegangan Devil. Ditambah dengan iringan tata musik karya Fernando Velázquez di setiap adegan, Devil berhasil beberapa kali dalam mengantarkan jajaran shock therapy bagi para penontonnya.
Namun, Devil sama sekali bukan karya yang sempurna. Premis yang diberikan film ini memang cukup menarik, namun harus diakui, bahkan dalam durasi yang “hanya” sepanjang 80 menit, premis tersebut sempat terasa sebagai sebuah jalan cerita yang dipanjang-panjangkan. Hal ini dilakukan penulis naskah, Brian Nelson (30 Days of Night, 2007), dengan memberikan sedikit kisah personal dari tokoh utamanya, Detektif Bowden, serta berbagai usaha yang ia lakukan dalam memecahkan pertanyaan siapa pembunuh sebenarnya yang berada di dalam elevator tersebut. Sayangnya, jalinan kisah tersebut tak sepenuhnya berhasil. Begitu kontrasnya tingkat ketegangan yang terjadi antara kisah di dalam elevator dengan kisah di luar elevator, Devil beberapa kali sempat terasa sebagai sebuah sajian yang membosankan ketika fokus film ini tidak berada pada kelima karakter yang terjebak di dalam elevator.
Twist ending yang coba dihadirkan sendiri harus diakui cukup mampu memberikan kejutan tersendiri bagi para penontonnya. Penonton yang sedari awal telah diarahkan bahwa sang pembunuh adalah salah satu diantara mereka yang mampu bertahan hingga akhir, tentu akan terkejut dan dengan pemilihan ending yang dipilihkan Shyamalan. Dari departemen akting, tidak ada yang terlalu menonjol diantara para jajaran pemeran film ini. Para pemeran karakter yang terjebak bermain cukup baik dalam menghidupkan karakter mereka. Chris Messina, yang menjadi pemeran utama, juga melaksanakan tugasnya dengan baik. Tidak istimewa, karena beberapa kali Messina terasa terlalu membosankan, namun sama sekali tidak mengecewakan.
Apakah Devil akan mampu mengangkat kembali nama M Night Shyamalan yang terlanjur mendapat cap jelek dari para penikmat film dunia? Hanya waktu yang akan dapat menjawab pertanyaan tersebut. Namun dengan film ini, setidaknya dunia masih dapat melihat bahwa Shyamalan telah berusaha dengan sangat baik untuk melakukan hal tersebut. Sebagai sebuah thriller, Devil adalah sebuah film yang cukup intense dalam menghantarkan setiap jalinan cerita yang menegangkan. Terasa sedikit membosankan pada beberapa bagian, namun secara keseluruhan, Devil adalah hasil yang cukup memuaskan.

Devil (Media Rights Capital/The Night Chronicles/Blinding Edge Pictures/Universal Pictures, 2010)
Devil (2010)
Directed by John Erick Dowdle Produced by John Erick Dowdle, Drew Dowdle, M Night Shyamalan, Sam Mercer Written by Brian Nelson (screenplay), M Night Shyamalan (story) Starring Chris Messina, Bojana Novakovic, Bokeem Woodbine, Logan Marshall-Green, Jenny O’Hara, Geoffrey Arend, Jacob Vargas, Matt Craven Music by Fernando Velázquez Cinematography Tak Fujimoto Editing by Elliot Greenberg Studio Media Rights Capital/The Night Chronicles/Blinding Edge Pictures Distributed by Universal Pictures Running time 80 minutes Country United States Language English

Tangled (Rapunzel)

Walt Disney mungkin adalah nama yang cukup disegani di industri perfilman Hollywood – khususnya ketika membicarakan mengenai film-film animasi. Namun tidak dapat disangkal, tanpa adanya bantuan dari Pixar Animation Studios, mungkin nama Walt Disney di industri film animasi Hollywood telah lama tenggelam. Mereka sebenarnya tidak pernah tampil mengecewakan, tapi di luar film-film karya Pixar yang mereka distribusikan dan semenjak merilis The Lion King di tahun 1994, Walt Disney Animation Studios lebih sering merilis film-film animasi berkualitas ‘menengah’ daripada film-film animasi berkualitas klasik seperti yang dahulu pernah mereka hasilkan lewat Snow White and the Seven Dwarfs (1937), The Little Mermaid (1989), Beauty and the Beast (1990) atau Aladdin (1992).
Lewat Princess and the Frog (2009), Walt Disney Animation Studios kemudian mencoba menghidupkan kembali nama besar mereka – khususnya melalui kisah fairy tale yang dihidupkan lewat genre animasi musikal. Terbukti, Princess and the Frog berhasil meraih kesuksesan besar, baik secara kritikal maupun secara komersial. Bertepatan dengan perilisan karya mereka yang ke-50, Disney kembali mengolah sebuah kisah fairy tale klasik untuk kemudian dirilis ke dalam bentuk animasi musikal. Pilihan kali ini jatuh kepada kisah Rapunzel yang merupakan karya klasik dari Brothers Grimm. Tidak hanya memberikan sentuhan baru pada kisah tersebut – dan sebuah judul baru, Tangled, dengan kembali mengajak komposer langganan mereka, Alan Menken, Disney jelas bertekad kuat untuk kembali menghembuskan semangat film-film animasi klasiknya kepada film ini.
Kisahnya sendiri masih menyerupai kisah Rapunzel yang telah lama dikenal masyarakat luas. Bedanya, tidak ada seorang pangeran di dalam kisah ini yang datang untuk menyelamatkan sang putri. Yang ada hanyalah seorang penjahat tampan bernama Flynn Ryder (Zachary Levi) yang secara tidak sengaja masuk ke sebuah menara dimana Rapunzel (Mandy Moore) telah tinggal seumur hidupnya. Rapunzel sendiri tinggal di menara tersebut semenjak bayi setelah ia diculik oleh Mother Gothel (Donna Murphy) dari kedua orangtuanya yang merupakan raja dan ratu sebuah kerajaan. Mother Grothel sendiri menculik Rapunzel untuk memanfaatkan kekuatan magis rambut Rapunzel dan menjaganya agar tetap awet muda.
Walau pada awalnya sama sekali tidak mempercayai Flynn, Rapunzel akhirnya berhasil memaksa Flynn untuk mengajaknya keluar dari menara tersebut dan pergi melihat festival kerajaan yang digelar sang raja dan ratu untuk mengenang hilangnya putri tunggal mereka. Tentu saja, Rapunzel sangat senang ketika pertama kali ia berhasil menginjakkan kakinya di luar menara. Namun, kesenangan itu berubah menjadi sebuah petualangan ketika Flynn dan Rapunzel menjumpai banyak orang yang berniat menangkap Flynn. Ini masih ditambah lagi dengan berbagai usaha Mother Gothel untuk kembali mendapatkan Rapunzel setelah mengetahui bahwa dirinya lari dari menara tempat ia selama ini tinggal.
Ditulis oleh Dan Fogelman, seperti halnya film-film animasi klasik Disney lainnya, naskah cerita Tangled juga dipenuhi dengan alur kisah yang berisi berbagai adegan yang terasa segar, menghibur namun juga tak lupa tetap mampu menyentuh hati setiap penontonnya. Alur kisah klasik Rapunzel memang terkesan terlalu segmented untuk dapat dinikmati kalangan dewasa, namun Fogelman mampu memoles hal ini dengan sangat baik dan menjadikan Tangled cukup mampu untuk dinikmati oleh penonton muda maupun penonton dewasa. Kesan klasik film ini juga berhasil datang dari tampilan Tangled yang memang dirancang sedemikian rupa untuk memberikan kesan animasi hand-drawn walaupun sebenarnya tetap menggunakan teknologi CGI dalam memproduksi setiap gambarnya. Ini membuat Tangled tampil sangat indah, khususnya ketika film ini membutuhkan warna-warna alami nan terang untuk menghidupkan naskah ceritanya.
Pemilihan talenta suara untuk menghidupkan tiap karakter yang ada di dalam jalan cerita Tangled juga sepertinya tidak melalui hambatan yang berarti. Karakter suara Mandy Moore memang terdengar cukup pas dalam menghidupkan Rapunzel, namun Zachary Levi dan Donna Murphy-lah yang seringkali mencuri perhatian lebih lewat karakter suara yang mereka berikan lewat tokoh Flynn Ryder dan Mother Grothel. Hal ini mungkin dikarenakan dialog-dialog yang diberikan untuk keduanya memang lebih menarik jika dibandingkan dengan karakter-karakter lainnya.
Seperti biasa, Disney tak lupa memberikan beberapa karakter pendamping yang biasanya selalu menambah unsur komedi  di dalam jalan cerita. Kali ini, karakter-karakter pendamping tersebut muncul dalam bentuk hewan – seekor bunglon bernama Pascal dan seekor kuda bernama Maximus – yang walaupun tidak memiliki kemampuan untuk berbicara, namun tetap berhasil mencuri perhatian lewat tingkah polah mereka yang jelas akan mencuri hati sekaligus tawa setiap penonton film ini.
Walau telah terbiasa bekerja dengan Walt Disney Animation Studios, dan seringkali menghasilkan karya yang justru menjadi jiwa dan menambah nilai lebih dari setiap film animasi yang dihasilkan Disney, sayangnya kali ini karya yang dihasilkan komposer Alan Menken sepertinya kurang terlalu mampu untuk memberikan nilai lebih tersebut kepada Tangled. Tidak ada lagu-lagu berkualitas klasik a la Beauty and the Beast (Beauty and the Beast), A Whole New World (Aladdin) maupun So Close (Enchanted) di dalam Tangled. I See The Light yang dinyanyikan duet antara Mandy Moore dan Zachary Levi memang berhasil memberikan kesan klasik yang cukup mendalam, namun secara keseluruhan, lagu-lagu yang disajikan lewat beberapa adegan musikal Tangled terkesan terlalu ‘serius’ dan diiringi dengan lirik-lirik yang kurang begitu catchy untuk mudah diingat.
Adalah sangat mudah untuk jatuh cinta kepada setiap karya animasi yang dihasilkan oleh Walt Disney Animation Studios. Tangled adalah salah satunya. Dengan memanfaatkan kisah yang telah begitu familiar bagi banyak orang, Disney sekali lagi berhasil membuktikan bahwa, di luar bantuan Pixar, mereka masih patut diperhitungkan sebagai rumah produksi yang selalu berhasil memberikan karya-karya yang mampu menghibur sekaligus berkualitas tinggi. Walau hasil akhirnya masih jauh dari kualitas film-film animasi klasik Disney – terlebih dengan kurang mengenanya lagu-lagu yang dihasilkan Alan Menken untuk berbagai adegan musikal film ini – namun Tangled tetap berhasil muncul sebagai salah satu karya animasi terbaik sepanjang tahun ini.

Tangled (Rapunzel) (Walt Disney Animation Studios/Walt Disney Pictures, 2010)
Tangled (Rapunzel) (2010)
Directed by Nathan Greno, Byron Howard Produced by Roy Conli Written by Dan Fogelman (screenplay), Brothers Grimm (story) Starring Mandy Moore, Zachary Levi, Donna Murphy, Brad Garrett, Ron Perlman, Jeffrey Tambor, Richard Kiel, M. C. Gainey, Paul F. Tompkins Music by Alan Menken , Glenn Slater (songs and lyrics), Alan Menken (score) Editing by Tim Mertens Studio Walt Disney Animation Studios Distributed by Walt Disney Pictures Running time 100 minutes Country United States Language English

The Next Three Days

, ,
Setelah In the Valley of Elah (2007) yang sangat menyentuh namun sepertinya kurang berhasil mendapatkan perhatian yang lebih besar, pemenang dua Academy Awards, Paul Haggis, kini kembali ke kursi sutradara untuk mengarahkan Russell Crowe dan Elizabeth Banks dalam The Next Three Days. Film ini sendiri merupakan remake dari film Perancis yang menjadi debut penyutradaraan bagi sutradara Fred Cavayé, Pour Elle, yang sempat meraih kesuksesan besar ketika dirilis pada tahun 2008 silam.
The Next Three Days sendiri seperti ingin mempertanyakan kembali mengenai apa yang akan Anda lakukan untuk orang yang Anda cintai, suatu hal yang sepertinya ingin dibuktikan oleh John Brennan (Crowe) kepada istrinya, Lara (Banks), ketika sang istri dipenjara akibat terkena tuduhan telah membunuh bosnya. John, yang seorang guru, kemudian menghabiskan masa waktu tiga tahun untuk berusaha melakukan segala upaya hukum untuk dapat membuktikan bahwa sang istri tak bersalah. Namun, dalam jangka tiga tahun tersebut, John akhirnya menyadari bahwa kesempatan dirinya untuk dapat membebaskan Lara adalah sama sekali tidak mungkin.
John akhirnya memutuskan untuk melakukan hal yang mungkin akan dilakukan setiap suami lainnya ketika istri mereka dipenjara karena tuduhan yang sebenarnya tidak mereka lakukan: berusaha menembus penjara untuk kemudian melarikan sang istri. John kemudian menghabiskan masa waktu tiga bulan untuk melakukan observasi terhadap lingkungan penjara tempat Lara ditahan. Ia juga berkonsultasi dengan Damon Pennington (Liam Neeson), seorang penulis yang dahulunya popular sebagai seorang narapidana yang selalu berhasil meloloskan diri dari kurungan penjara. Seperti belum cukup menghadapi hambatan dalam usahanya, John kemudian mendapatkan surat pemberitahuan dari pihak kepolisian bahwa istrinya akan direlokasi ke penjara lainnya dalam waktu dekat. Kini, John hanya punya waktu tiga hari untuk melaksanakan seluruh rencananya dalam membebaskan sang istri.
Di tangan Paul Haggis, The Next Three Days terasa bagaikan sebuah film thriller yang berjalan terlalu pelan akibat banyaknya detil yang berusaha dimasukkan oleh Hagis di dalam jalan cerita film ini. Beberapa detil tersebut — kebanyakan berfokus pada kepribadian John Brennan ketika ia sedang tidak menyusun rencana besarnya yang sepertinya bahkan tidak terlalu signifikan untuk dimasukkan ke dalam jalan cerita — membuat beberapa bagian The Next Three Days berjalan terlalu menjemukan untuk disimak. Hal ini pula yang sepertinya membuat The Next Three Days berjalan lebih panjang daripada film aslinya.
Ritme perlahan tersebut kemudian berubah pada masa durasi satu jam terakhir film ini. The Next Three Days yang awalnya seperti sebuah drama yang berfokus pada karakterisasi setiap tokoh yang ada di dalam jalan ceritanya kemudian berubah menjadi sebuah thriller action ketika John Brennan digambarkan sedang berusaha mengeluarkan istrinya dari penjara. Di masa-masa inilah The Next Three Days mencapai masa puncaknya. Denganmenggunakan alur cepat, intensitas ketegangan yang terjaga dengan baik, dan ditambah dengan kemampuan setiap karakter yang terlibat dalam menghidupkan jalan cerita dengan baik, bagian ini sedikit banyak berhasil menghapuskan rasa lelah yang sebelumnya timbul akibat terlalu serius dan perlahannya The Next Three Days berjalan.
Walau jalan ceritanya kadang berjalan menjemukan, namun tak ada yang dapat meragukan performa Russell Crowe di film ini. Seringkali mendapatkan peran sebagai karakter yang heroik, Crowe sekali lagi mampu membuktikan bahwa ia adalah aktor yang brilian dengan keberhasilannya membuat karakter John Brennan menjadi seorang karakter yang membumi dan mudah dipercaya sebagai karakter pria yang dapat ditemukan di mana saja. Kemampuan dramatik Crowe membuat jalan cerita The Next Three Days yang sepertinya tidak terlalu masuk akal untuk benar-benar dapat dilaksanakan di dunia nyata terlihat menjadi cukup meyakinkan untuk diikuti.
Tidak hanya Crowe, Paul Haggis juga mendapatkan barisan pemeran pendukung yang sangat baik dalam melaksanakan tugas mereka. Walau karakter-karakter ini mendapatkan waktu tayang yang jauh lebih sedikit daripada Crowe, namun kehadiran merekalah yang seringkali membuat keefektifan penampilan Crowe menjadi lebih terasa. Elizabeth Banks mampu menampilkan kemampuan dramanya yang sepertinya semakin sering terasah akhir-akhir ini. Liam Neeson dan Brian Dennehy mendapatkan peran yang lebih minimal lagi, namun keduanya mampu tampil maksimal dalam menghidupkan peran mereka yang singkat.
Sebagai sebuah thriller, Paul Haggis sayangnya terlalu lamban dalam mengolah jalan cerita The Next Three Days. Haggis membutuhkan waktu lebih dari satu jam jalan cerita untuk melakukan karakterisasi yang mendalam terhadap setiap karakter – yang sayangnya, kadang malah terlalu dipenuhi oleh banyak detil yang sebenarnya tidak diperlukan untuk jalan cerita film ini. Ini berakibat buruk dalam menjadikan The Next Three Days cenderung menjadi membosankan. Haggis, untungnya, mengganti arah penceritaan film ini menjadi sebuah thriller yang berjalan cepat di satu jam akhir dan berhasil meningkatkan kembali intensitas ketegangan yang sedari awal sepertinya melempem. Barisan pemerannya memberikan penampilan yang sangat memuaskan dan untungnya mampu menjadikan The Next Three Days sebagai sebuah film yang tidak begitu mengecewakan.
The Next Three Days (Highway 61 Films/Lionsgate, 2010)
The Next Three Days (2010) Directed by Paul Haggis Produced byMichael Nozik, Olivier Delbosc, Paul Haggis, Marc Missonnier Written by Paul Haggis, Fred Cavayé Starring Russell Crowe, Elizabeth Banks, Liam Neeson, Brian Dennehy, Olivia Wilde, Jason Beghe, Lennie James, Aisha Hinds, Daniel Stern, RZA, Kevin Corrigan, Allan Steele Music by Danny Elfman Cinematography Stéphane Fontaine Studio Highway 61 Films Distributed by Lionsgate Running time 122 minutes Country United States Language English

INCEPTION

Setelah Memento dan The Dark Knight, sutradara Christopher Nolan kembali datang untuk menantang setiap penonton filmnya untuk dapat menggunakan sedikit pemikiran mereka dalam mengikuti salah satu film yang paling ditunggu untuk tahun ini, Inception. Merilisnya di saat musim panas, masa di mana Hollywood biasanya cenderung untuk merilis film-film popcorn yang hadir hanya sebatas hiburan belaka, tentu akan menjadi resiko tersendiri yang harus dihadapi Nolan. Namun, apakah Inception benar-benar sekompleks yang dibayangkan oleh setiap penontonnya?
Inception adalah sebuah film action thriller yang pintar. Sangat pintar… dan sebenarnya sangat mudah untuk diikuti. Ibarat berada di dalam sebuah labirin, kunci jawaban untuk keluar dari kerumitan Inception ada pada 45 menit awal dari durasi film ini yang harus Anda perhatikan dengan sangat baik. Jika Anda tersesat dan terjebak pada adegan awal film ini dan memutuskan bahwa film ini terlalu rumit untuk Anda ikuti, maka percayalah, Inception akan menjadi sebuah labirin yang akan menjebak pemikiran Anda.
Menggunakan konsep dream within a dream (dan itu adalah potongan kata-kata kunci yang harus Anda pegang selama menyaksikan film ini), Inception mengisahkan mengenai Domm Cobb (Leonardo DiCaprio), seorang penipu yang mampu mencuri ide seseorang dengan cara memasuki alam pemikirannya ketika orang tersebut sedang berada di alam mimpi. Kemampuan unik ini sering disebut sebagai sebuah kemampuan untuk melakukan extraction. Oleh Saito (Ken Watanabe), yang kagum akan kemampuan Cobb, ia diberikan sebuah tugas yang lebih berat lagi, yakni untuk melakukan penanaman ide di pemikiran seseorang, yang lazim disebut inception.
Untuk menjalankan tugas tersebut, Cobb mengajak rekan-rekannya, Arthur (Joseph Gordon-Levitt), yang merupakan sahabat dan orang kepercayaan Cobb, dan Eames (Tom Hardy), yang memiliki kemampuan untuk menirukan karakter lain. Mereka kemudian juga merekrut Yusuf (Dileep Rao), yang memiliki kemampuan dalam mengolah bahan kimia, serta Ariadne (Ellen Page), murid dari mertua Cobb, Miles (Michael Caine), yang memiliki kemampuan yang mengagumkan dalam hal arsitektur dan ditugaskan untuk membentuk sebuah alam mimpi.
Tugas mereka kini adalah memasuki alam mimpi Robert Fischer, Jr (Cillian Murphy), seorang pewaris sebuah perusahaan, dan menanamkan pemikiran bahwa ia harus menutup perusahaan ayahnya. Sebenarnya, dengan keberadaan tim yang solid dan memiliki kapabilitas yang baik, tugas ini diyakini dapat mudah untuk dilaksanakan. Namun, alam pikiran Cobb sendiri memiliki beberapa hal tersembunyi mengenai almarhumah istrinya, Mal (Marion Cotillard), yang seringkali mengganggu pemikiran Cobb dan akhirnya mengganggu kinerjanya ketika sedang bertugas.
Itu adalah beberapa dasar cerita dari Inception yang kemudian akan dilanjutkan dengan kisah Cobb dan rekan-rekannya yang menyelami alam mimpi Fischer dan melaksanakan tugasnya. Disinilah kompleksitas cerita Nolan mulai memberikan tantangan kepada para penontonnya untuk bertahan. Di dalam alam mimpi Fischer tersebutlah Nolan memberikan kreasi beberapa lapisan alam mimpi dengan memanfaatkan perbedaan waktu antara satu lapisan dengan lapisan lainnya: satu menit di dunia nyata sama dengan sepuluh menit di lapisan mimpi pertama, satu jam di lapisan mimpi kedua dan kurun tahunan dalam lapisan mimpi ketiga.
Tidak berhenti disitu, Nolan juga menambahkan alam mimpi buangan yang disebut dengan limbo. Di bagian inilah Nolan mengeksplorasi lebih banyak mengenai kepribadian Cobb, hubungan percintaan antara Cobb dan Mal di masa lalu dan menjelaskan bagaimana sebenarnya hubungan mereka yang menyebabkan Cobb selalu dihantui oleh bayang-bayang Mal. Dapat dimengerti mengapa Nolan masih bersusah payah untuk memasukkan unsur kisah cinta yang sebenarnya tidak akan berdampak banyak pada kisah utama film ini. Kisah cinta Cobb dan Mal ada untuk semakin memperumit kepribadian Cobb – sekaligus sedikit mengalihkan perhatian para penonton dari kisah cerita utama yang sedang berjalan.
Rangkaian berbagai kejadian di tiga (pada satu titik menjadi empat) lapisan alam mimpi yang ditampilkan di saat yang bersamaan inilah yang nantinya akan menjebak beberapa penonton dan memaksa mereka untuk menggunakan pemikiran mereka lebih keras. Ini ditambah lagi penampilan visual effect dan proses editing yang luar biasa rapi, menyebabkan Inception menjadi sebuah labirin yang sangat berliku dan membuat mereka tersesat di dalam jalan cerita yang sebenarnya sangat sederhana namun dilapisi berbagai  tampilan yang membuatnya terlihat begitu kompleks dan sukar untuk dilewati.
Walaupun tampil pintar, Inception tidaklah hadir tanpa kelemahan. Christopher Nolan sepertinya sangat berfokus pada kisah usaha Cobb dan rekan-rekannya untuk menembus alam mimpi Fischer, sehingga sepertinya lupa untuk memberikan pengembangan karakter yang lebih dalam kepada setiap karakter yang ada di dalam cerita ini. Kecuali Cobb — tidak akan banyak hal yang dapat digali dan diketahui dari setiap karakter, membuat para penonton kurang dapat terhubung dengan baik dengan mereka. Tidak masalah jika Anda adalah seorang yang lebih mengutamakan tampilan luar. Namun bukankan Inception akan lebih berkesan ketika kita menjadi benar-benar peduli dan memiliki hubungan emosional mengenai apa yang terjadi pada Cobb, Arthur, Eames atau Ariadne?
Inception adalah sebuah kontender kuat di sisi teknikal, termasuk dari tata musiknya yang dikerjakan oleh Hans Zimmer. Masih ingat dengan tata musik Zimmer yang ia hasilkan untuk Sherlock Holmes dan Angels and Demons tahun lalu? Mendebarkan, menegangkan dan memacu adrenalin. Tingkatkan intensitas ketegangan tersebut sebanyak minimal tiga kali dan Anda akan mendapatkan tata musik yang dihasilkan Zimmer untuk Inception. Begitu mengisi emosi dan ketegangan dengan sangat baik di setiap adegan film ini.
Nolan tentu saja tidak akan melepaskan Anda dengan mudah walaupun telah menjejali berbagai kebingungan di pemikiran Anda selama 148 menit. Ending film ini dipastikan akan menyisakan begitu banyak tanda tanya pada setiap penontonnya. Namun perjalanan menuju bagian ending tersebut adalah yang paling berarti dari Inception. Nolan telah memberikan sebuah persembahan yang sangat apik melalui film ini. Walaupun tidak menawarkan banyak pada departemen akting – tidak berarti jajaran aktor dan aktris kelas atas di sini bermain buruk. Bagus, namun tidak istimewa – serta kurangnya unsur kejutan yang biasanya selalu ditemukan di film-film Nolan, Inception berhasil tampil sangat mengagumkan dan dipastikan akan memuaskan setiap penonton filmnya… jika mereka tidak tersesat di dalam labirin kisah film ini.

Inception (Legendary Pictures/Syncopy Films/Warner Bros. Pictures, 2010)
Inception (2010)
Directed by Christopher Nolan Produced by Christopher Nolan, Emma Thomas Written by Christopher Nolan Starring Leonardo DiCaprio, Ken Watanabe, Joseph Gordon-Levitt, Marion Cotillard, Ellen Page, Tom Hardy, Cillian Murphy, Dileep Rao, Tom Berenger, Michael Caine, Lukas Haas, Talulah Riley, Pete Postlethwaite Music by Hans Zimmer Cinematography Wally Pfister Editing by Lee Smith Studio Legendary Pictures/Syncopy Films Distributed by Warner Bros. Pictures Running time 148 minutes Country United States Language English

D'LOVE

Dari Helfi Kardit, seorang sutradara yang terkenal dengan karya-karyanya seperti Hantu Bangku Kosong, Mengaku Rasul hingga Arisan Brondong, hadirlah D’Love, yang secara mengagumkan mampu merangkum seluruh hal-hal klise yang ada di perfilman Indonesia di dalam durasinya yang hanya sepanjang 90 menit itu. Mulai dari cinta segitiga, karakter yang broken home, karakter yang terpaksa menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidup, karakter gay hingga karakter yang harus menderita sakit terangkum dan dimanfaatkan dengan sangat baik di film ini.
Mampu merangkum seluruh karakter tersebut, bukan lantas berarti D’Love adalah sebuah film yang dapat dibanggakan keberadaannya di sejarah perfilman Indonesia. Karakter-karakter yang ada di dalam sebuah jalan cerita tentu saja dihadirkan untuk kemudian mendapatkan sebuah pendalaman yang akan membuat karakternya benar-benar terasa nyata dan mampu membentuk jalinan chemistry yang tepat dengan penontonnya. Untuk poin yang ini, menyaksikan D’Love bukanlah sebuah pengalaman terbaik yang akan Anda dapatkan.
D’Love sendiri memfokuskan kisahnya pada Elmo (Agung Saga), seorang pemuda yang memilih meninggalkan rumah mewah orangtuanya setelah menyadari bahwa sang ayah adalah seorang koruptor. Untuk menyambung hidup, Elmo harus menjadi petarung aduan di jalan. Meski hidupnya liar, Elmo tetap tak mau berhenti sekolah. Sahabat Elmo, Neina (Rebecca Reijman) tahu benar alasan Elmo bertahan di dua dunia yang serba bertentangan itu adalah karena Aprilia (Aurelie Mouremans).
Elmo dan Aprilia sendiri telah semenjak lama merasa saling tertarik. Namun Elmo yang sudah bersumpah untuk meninggalkan dunia kemapanan yang dianggapnya penuh orang munafik itu berusaha keras untuk menyangkal rasa cintanya pada April hanya karena April adalah seorang pianis muda yang glamour dan juga putri tunggal pengusaha ternama, Baskara (Ahmad Albar). Atas desakan Neina, Elmo akhirnya berani mengajak April memasuki dunianya dan bahkan bersahabat dengan Bocor (Rizky Adrianto), anak jalanan yang selama ini mengekor kemana pun Elmo pergi. Elmo sama sekali tak menyadari bahwa hubungannya dengan April sebenarnya membuat hati Neina hancur karena selama ini diam-diam Neina mencintai Elmo.
Tidak banyak yang dapat diungkapkan dari D’Love selain bahwa film ini terlalu berusaha untuk mempersulit plot cerita yang sebenarnya sangatlah simpel dengan berkali-kali menimpakan permasalahan pada sang karakter utama. Sayangnya, hal tersebut justru tidak dilakukan dengan sangat baik, bahkan satu masalah seringkali terlihat menjadi hanya sekedar tempelan belaka sebelum permasalahan baru muncul, yang menyebabkan D’Love menjadi sebuah film yang sangat datar semenjak awal hingga ke penghujung durasi film ini.
Ketiga pemeran utama film ini seharusnya tidak harus melalui permasalahan besar dalam memerankan karakter mereka, yang kalau mau diteliti dengan baik, sebenarnya sangatlah minim dialog. Lihat saja karakter Neina yang diperankan oleh Rebecca Reijman. Setiap kali tampil, Rebecca hanya mengucapkan sepatah dua kata dan tak pernah terlibat dalam sebuah percakapan panjang. Sama halnya dengan dua karakter lain, Elmo dan Aprilia yang diperankan oleh Agung Saga dan Aurelie Mouremans.
Permasalahannya bukan muncul karena ketiga karakter utama tersebut memiliki dialog yang minim. Masalah utama muncul karena ketiga pemerannya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menghidupkan peran mereka dan seringkali terlihat mengucapkan dialog mereka dengan tone dan ekspresi wajah yang  teramat datar, khususnya sang pemeran utama, Agung Saga. Sudahlah karakternya diceritakan sedikit plin-plan dalam menentukan pilihan cintanya, datarnya permainan Agung juga membuat penonton perlahan-lahan mulai menjauhi karakternya.
Jika ketiga aktor utamanya mendapatkan bagian dialog yang sedikit, maka pemeran pendukung cilik, Rizky Adrianto, mendapatkan banyak kesempatan untuk berdialog panjang. Helfi Kardit mungkin ingin menempatkan karakter Bocor yang diperankan Rizki sebagai sidekick dari Elmo yang mampu menghibur penonton dengan tingkah polahnya dan gaya bicara yang semaunya. Beberapa kali, karakter Bocor mengungkapkan beberapa dialog yang seharusnya lucu, namun entah mengapa, cara penyampaian Rizky justru membuatnya seperti mengesalkan.
Pemeran pendukung lainnya, aktor senior Ahmad Albar, juga tidak akan mendapatkan penilaian yang positif atas peran kakunya sebagai seorang ayah yang gay. Karakter gay di film ini benar-benar hanya menjadi sebuah gimmick belaka ketika Helfi Kardit gagal dalam mengembangkan karakter tersebut lewat dialog-dialog yang (inginnya terdengar) bijaksana serta chemistry yang gagal antara Ahmad Albar dan Aurelie Mouremans.
Kesalahan utama D’Love terletak pada jajaran pemerannya yang terlihat sama sekali tidak berusaha untuk menghidupkan karakter mereka atas dasar sebuah naskah cerita yang memang dangkal tersebut. Dari sisi naskah, D’Love sendiri juga sangat terasa sebagai sebuah film yang terlalu berusaha untuk terlihat pintar dengan banyaknya variasi karakter serta tambahan plot cerita, yang ketika tidak berhasil dieksekusi dengan baik, justru membuat kualitas D’Love sebagai sebuah film semakin terpuruk tajam. Membosankan.

D'Love (Bintang Timur Films/Dreamcatcher Pictures, 2010)
D’Love (2010)
Directed by Helfi Kardit Produced by Fanny Nasry, Helfi Kardit Written by Amorita D Starring Aurelie Mouremans, Rebecca Reijman, Agung Saga, Ahmad Albar, Rizky Adrianto, Shierly Rushworth Music by Tya Subiakto Satrio Studio Bintang Timur Films/Dreamcatcher Pictures Country Indonesia Language Indonesian

The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader

One man’s trash is another man’s treasure. Setelah menilai bahwa seri kedua dari adaptasi kisah cerita The Chronicles of Narnia, Prince Caspian, kurang begitu berhasil dalam menarik minat penonton, Walt Disney Pictures akhirnya memutuskan untuk melepaskan hak distribusinya, yang kemudian membuat Walden Media – pemegang hak perilisan setiap adaptasi dari The Chronicles of Narnia – memberikan hak distribusi tersebut kepada 20th Century Fox. Perubahan ini sepertinya berhasil memberikan sedikit angin segar dalam gaya penceritaan seri ini. Walau jalan ceritanya tidak sekompleks dua seri terdahulunya, namun seri ketiga ini, The Voyage of the Dawn Treader, harus diakui berhasil menjadi seri yang paling menghibur dari seri film The Chronicles of Narnia yang ada hingga saat ini.
Berlatar belakang setahun setelah petualangan yang dialami Pevensie bersaudara di seri kedua, kisah The Voyage of the Dawn Treader kini berfokus pada Edmund Pevensie (Skandar Keynes) dan Lucy Pevensie (Georgie Henley) yang saat ini sedang tinggal di rumah pamannya ketika mereka sedang ditinggal oleh kedua orangtua dan saudara-saudaranya. Kehidupan Edmund dan Lucy sendiri berjalan kurang menyenangkan, khususnya lagi akibat gangguan yang selalu diberikan keponakan mereka, Eustace Scrubb (Will Poulter). Namun, kehidupan yang kurang menyenangkan tersebut berubah drastis ketika Edmund dan Lucy secara tiba-tiba berpindah kembali ke Narnia – negeri dongeng yang telah lama mereka rindukan. Tidak hanya Edmund dan Lucy yang berpindah, Eustace yang saat kejadian tersebut sedang bersama mereka juga turut berpindah ke Narnia.
Bertiga, mereka kembali bertemu dengan Caspian (Ben Barnes), yang saat ini telah menjadi raja dari Narnia. Caspian sendiri saat ini sedang berada di kapal yang diwariskan oleh sang ayah kepadanya, Dawn Treader, dan sedang dalam perjalanan untuk menemukan tujuh bangsawan Narnia yang pada masa kepemimpinan Miraz diasingkan untuk mengamankan posisinya sebagai pemimpin Narnia. Tujuan Caspian sendiri dalam menemukan ketujuh bangsawan ini tak lain adalah karena ingin menyelamatkan Narnia dari sebuah kekuatan magis yang tak diketahui yang saat ini sedang mengintai dan membahayakan posisi Narnia. Dalam perjalanan inilah, ketika kapal Dawn Treader singgah dari satu daratan ke daratah lainnya, Edmund, Lucy, Eustace, Caspian dan seluruh awak kapal Dawn Treader menghadapi banyak petualangan yang tidak hanya menguji kekuatan fisik mereka, namun juga menguji kekuatan mental dan rasa persahabatan mereka.
Jika petualangan Harry Potter terlihat semakin gelap, bergerak semakin lamban dan ditampilkan dengan durasi yang lebih lama ketika melanjutkan kisah petualangannya, maka seri petualangan The Chronicles of Narnia bergerak ke arah yang sebaliknya. Jika dibandingkan dengan dua seri sebelumnya yang telah hadir, adalah sangat mudah untuk mengidentifikasi The Voyage of the Dawn Treader sebagai bagian seri petualangan The Chronicles of Narnia yang lebih ringan dan lebih menyenangkan untuk disimak jalan ceritanya. Di sisi lain, ‘kesederhanaan’ jalan cerita ini pula yang justru yang menjadi satu-satunya titik kelemahan dari The Voyage of the Dawn Treader.
Para pembaca setia seri The Chronicles of Narnia mungkin akan dengan demikian cepat menyadari bahwa The Voyage of the Dawn Treader adalah versi singkat dari deretan petualangan yang sebenarnya telah dituliskan oleh C. S. Lewis dalam versi buku ceritanya. Mempersingkat jalan cerita dan membuatnya menjadi demikian sederhana sebenarnya bukanlah sebuah ‘kejahatan’ jika Anda ingin mengadaptasi sebuah buku menjadi sebuah naskah cerita. Namun, tentu saja, Anda tidak dapat melewatkan beberapa hal esensial yang sebenarnya menjadi inti dari jalan cerita buku tersebut. Dalam kasus The Voyage of the Dawn Treader, tim penulis naskah sepertinya terlalu berfokus pada kisah-kisah petualangan yang ditemui para karakternya dan sedikit melupakan mengenai apa tujuan sebenarnya dari perjalanan yang dilakukan oleh Caspian dengan kapal Dawn Treader-nya. Penonton hanya mendapatkan informasi yang minim mengapa hal tersebut dan beberapa hal lainnya yang terjadi di dalam jalan cerita versi film The Voyage of the Dawn Treader.
Terlepas dari jalan cerita yang ‘terlalu’ sederhana, The Voyage of the Dawn Treader sebenarnya adalah sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan untuk disimak. Para karakter yang dihadirkan di sepanjang jalan cerita terlihat sangat mampu untuk menghidupkan jalan cerita – kemungkinan besar karena para pemerannya yang telah semakin nyaman dalam memerankan karakter-karakter mereka. Keputusan sutradara, Michael Apted (The World is Not Enough, 1999), untuk menekankan sisi petualangan daripada sisi dramatis juga tidak berdampak buruk pada film ini. Memilih untuk menceritakan jalan cerita dengan alur yang cepat, membuat The Voyage of the Dawn Treader menjadi begitu mudah untuk diselami jalan ceritanya.
Penceritaan yang cepat juga tak membuat Apted lupa untuk memasukkan unsur emosional yang menyentuh ke dalam kisah petualangan ini. Memanfaatkan premis ‘petualangan terakhir’ Edmund dan Lucy di dunia Narnia, yang dihadirkan di penghujung film, Apted berhasil dengan sangat baik menampilkan kedekatan antara satu karakter dengan karakter lainnya dan membuat The Voyage of the Dawn Treader seperti sebuah kisah petualangan di dunia Narnia terakhir yang sangat menyentuh. Ditambah dengan iringan tata musik karya komposer David Arnold, bagian ‘perpisahan’ antara Edmund dan Lucy dengan Aslan (diisisuarakan oleh Liam Leeson), Caspian dan dunia Narnia karena kedewasaan mereka merupakan bagian terbaik dalam The Voyage of the Dawn Treader yang akan berhasil menyentuh siapapun yang menontonnya.
Faktor lain yang merupakan sebuah kesuksesan besar bagi Apted dalam menggarap The Voyage of the Dawn Treader adalah keberhasilannya dalam menterjemahkan petualangan setiap karakter yang ada di dalam jalan cerita lewat pemilihan gambar-gambar yang sangat indah untuk disaksikan. Latar belakang cerita yang berada di lautan juga dapat dioptimalkan dengan baik oleh Apted lewat pemilihan untuk menggunakan teknologi 3D dalam merepresentasikan kisah film ini. Tidak dapat disangkal bahwa penggunaan teknologi 3D dalam The Voyage of the Dawn Treader merupakan salah satu pemanfaatan teknologi 3D terbaik di sepanjang tahun ini.
Bergerak ke arah yang berlawanan dari jalur yang ditempuh oleh petualangan Harry Potter dalam menceritakan lanjutan kisah petualangannya, The Voyage of the Dawn Treader harus diakui sedikit kehilangan esensi ceritanya ketika ditampilkan lewat jalan cerita yang ringkas tersebut. Namun untungnya, hal tersebut tidak terlalu berarti banyak dalam kenikmatan siapapun dalam menyimak jalan ceritanya. Membuang beberapa bagian yang terasa kurang begitu penting dan memilih untuk lebih menonjolkan sisi petualangan dari setiap karakter yang ada dengan alur cerita yang cepat – serta memanfaatkan teknologi 3D dengan sangat baik, sutradara Michael Apted berhasil menjadikan The Voyage of the Dawn Treader sebagai bagian yang paling menyenangkan dari seluruh seri The Chronicles of Narnia yang telah diadaptasi dalam bentuk film. Sebuah kemajuan pesat dari adaptasi kisah The Chronicles of Narnia yang membuat kelanjutan seri ini menjadi layak untuk ditunggu di masa yang akan datang.


The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader (Walden Media/20th Century Fox, 2010)
The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader (2010)
Directed by Michael Apted Produced by Mark Johnson, Andrew Adamson, Philip Steuer, Douglas Gresham Written by Christopher Markus, Stephen McFeely, Michael Petroni (screenplay), C. S. Lewis (novel) Starring Georgie Henley, Skandar Keynes, Will Poulter, Ben Barnes, Liam Neeson, Simon Pegg, Gary Sweet, William Moseley, Anna Popplewell, Tilda Swinton Music by David Arnold, Harry Gregson-Williams
(themes) Cinematography Dante Spinotti Editing by Rick Shaine Studio Walden Media Distributed by 20th Century Fox Running time 115 minutes Country United Kingdom, United States Language English